日本でムスリムの社会人として、どうする?(How to survive as a muslim syakaijin in Japan? )

Sharing from a muslim brother about his new life of being 社会人 (Syakaijin – Japanese company worker)  in Japan.

Assalamu Alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh

My dear brothers & sisters in Islam.


I do hope that my message finds you all in good condition of health & mood with strong iman(faith).


First of all, from the bottom of my heart, I would like to take this chance to congratulate those who are getting ready for the graduation ceremony tomorrow, the holiest day of the week: Jumah (Friday). I wish you nothing but the BEST of everything in both of your professional & personal life. May Allah subhana wa ta’ala continues pouring His blessings on you (all of us).


For those who are going to work in Japanese company, welcome to the new chapter of your life. I also would like to use this opportunity to share my experience in Japanese company  as Muslim as well as foreigner or “外国人”.


All the praise to our Creator who give me chance to be part of Japanese community & work with them. Last year, around this time I was so excited about becoming “shakaijin” & at the same time, I was worried about my faith & was asking myself like “will I be able to perform my prayers?” or “will I become one of those who went astray & leave my prayers by making excuses?” What if I can’t attend to weekly congregational Jumah prayer? How I’ll answer when they ask me for “Nomikai”? What I’ll do if they ask me to organize Nomikai for them? Because once I read a Hadith which is close to the meaning that Allah’s Messenger cursed ten people in connection with wine: the wine-presser, the one who has it pressed, the one who drinks it, the one who conveys it, the one to whom it is conveyed, the one who serves it, the one who sells it, the one who benefits from the price paid for it, the one who buys it, and the one for whom it is bought.

Hadith – Al-Tirmidhi #2776, Narrated Anas ibn Malik.

So the answers I had in my mind were like “I can’t pray my daily 5-time prayers, because Japanese companies doesn’t allow me to pray” or “I have to accept the attending the nomikais & organize Nomikais for them because it’s part of my job duty” or “I have to eat non-halal meat, or otherwise I cannot join to my colleagues group” and etc.


So I became a Shakaijin, nervousness, worries started bothering me inside… With the grace of Allah subhana wa ta’ala I had chance to talk about with HR manager regarding my condition as Muslim, alhamdulillah that I found that courage (which I couldn’t find before starting my job) to tell them that I needed to pray my daily prayers, and I don’t drink alcohol, & etc. After my conversation with them, Shaytan was telling me “They might not like you because you are different from others, because you don’t drink alcohol & etc” However, alhamdulillah that Allah  subhana wa ta’ala is so merciful that the next day they agreed for me to pray & arranged a room for me to pray in the company, started to ordering special seafood or vegetarian food when we have special events & etc., Even, I remember that once my colleagues organized a special dinner without alcohol. In some occasions they offer only soft drinks because I am among them. Once I read something like: “in life you will try to please everyone around you, and thus will usually lead to no one truly being pleased with you. Focus on pleasing, & attaining the pleasure of Allah and you will see how quickly the pleasure of those who count is attained.” Then I realized that we humans underestimate the mercy of Allah subhana wa ta’ala. If we we truly ask Him for His guidance from the bottom of our heart, he will make a way for us even though we think it’s impossible. When we dont drink, when we dont take a part in drinking parties & etc., might displease others, but Our actions are to please Allah subhana wa ta’ala who gave us this job, barakah/blessing. This is the one of the reason I wanted to share my story with all of you.


In addition, once you start your shakaijin life, it won’t be anymore any more student life. There will be lots of hardship, challenge in terms of cultures, working style & characters with your co-workers. Remember, you spent almost a year for your job hunting by doing your best! As say they Patience is the key to Success. So be patient & anytime you have trouble, stress, face hardship, dilemma get back to Allah by offering 2 rakats of Salah/Namaz/Prayer & ask Hid guidance & assistance.


We as Muslims should be a real role model to non-Muslims, Allah gave a Qur’an as a perfect guidance & our beloved Prophet (sallallahu alaihi waasalam) taught us how to be successful in this life & hereafter. Pay attention to the meaning of our Adhan (call for prayer) “…Hayya Allas Salah-Come/Hurry to the Prayer & Hayya Alal Falah-Come/Hurry to success (Rise up for Salvation). We have everything to be the most successful people in the world. Let’s try to put our leanings into practice & try to follow what Quran & Sunnah teaches us. We humans are weak, our iman/faith can be Up today but tomorrow might be down. So Salah/Namaz/Prayer is the key to keep our iman/faith stronger & lead us closer to Allah subhana wa ta’ala. We might be able to make it 100% perfect but let’s try to make it as perfect as we can. We do the action, barakah/result is from Allah  subhana wa ta’ala.


This is the REMINDER first for myself & then all you.


I would like to finish my mail with one of my favorite Hadith that the Prophet sal Allaahu alayhi wa sallam said to a man while he was advising him: Take benefit of five before five:

Your youth before your old age,

Your health before your sickness,

Your wealth before your poverty,

Your free-time before your preoccupation and Your life before your death.

[Prophet Muhammad sallallaahu ‘alayhi wa sallam – Al-Haakim,

Al-Baihaqee: Saheeh]


This mail & my stories are ONLY as a encouragement & reminder for you. Keep up your inspiration & remember us in your special supplication.


Everything which is good in this message is from my pure intention & anything which is bad is from Shaytan.


May Allah Bless us All & assist us in all of our endeavors & make our iman stronger. Amiin!


Allah knows the best.

Jazak Allah Khair for your time


Sincerely ,

your brother in Islam.




Semalam saya berjalan pulang usai selesai urusan sosialisasi dengan kouhai-kouhai saya.
Pulang pada hari semakin menjengah senja, dengan langkah yang diperlahan secara sengaja.

Jalan yang saya redahi selama 3 tahun ini, membawa saya berfikir sesuatu perkara.

Tentang kebiasaan.

Dalam kehidupan seseorang manusia itu, saya kira terlalu banyak hal yang menjadi kebiasaan.
Kadang-kadang perkara yang kita suka itu pun akan menjadi tidak seronok jika ianya sudah menjadi kebiasaan.

Sama seperti habit yang buruk.
Sekali mungkin, pelik. Namun, bahasa badan kita akan menerimanya dengan hati terbuka jika sudah berulang kali dilakukan.

Atas alasan, kebiasaan.

Hati saya sedang berfilosofi.
Kebiasaan itu tidak sepatutnya ada dalam hidup manusia.

Bila sesuatu perkara yang kita lakukan itu menjadi kebiasaan, bermakna ianya akan menjadi rutin.

Bila sesuatu perkara menjadi kebiasaan, ianya akan dilakukan dengan tidak sengaja atau tanpa sedar.

Bila sesuatu perkara dilakukan secara tanpa sedar, di mana letak niatnya?
Bila tiada niat, bolehkah sesuatu itu di nobatkan sebagai ibadah?
Bila sesuatu perkara itu tidak diambil kira sebagai ibadah, jadinya apa??

Lalu si rafiqah saya yang seorang ini bertanya;
” Habis tu, nak basuh pinggan pun kena niat dulu la? Sebelum nak basuh tu kena tahu kenapa mahu basuh, pasang niat dan sebagainya…”

Mungkin pada kita ianya sangat remeh. Tetapi saya rasa, betapa banyak masa dalam usia saya ini hanyalah dipenuhi dengan perkara kebiasaan. Cuba kita bayangkan seseorang yang ingin melakukan sesuatu itu, ambil masa beberapa saat dan berniat dan berfikir sesuatu tentang apa yang akan ataupun sedang dia lakukan. Tidak kelihatan seka-seka dan pastinya kelihatan tenang dan cool..!

Lalu timbullah dalam kepala saya, perkataan 青春のうちに (seishun no uchini)
Maksudnya, “sementara masih muda belia”

Disebabkan dalam kehidupan kita dipenuhi dengan perkara-perkara kebiasaan, hingga kita terlepas dan mungkin tidak keterlaluan untuk saya katakan yang kita sedang menzalimi diri.
Tenggelam dalam kebiasaan, hingga kita tidak memikirkan apa keistimewaan yang ada pada diri kita, potensi yang boleh digilap, dan sebagainya.

Jangan tipu jika saya katakan kita pun tidak sedar dan tidak pernah bertanya kepada diri untuk apa kita belajar selama ini?
Belajar kerana semua orang perlu belajar, dan mungkin sekadar melepaskan tanggungjawab selepas mendapat habuan biasiswa setiap bulan.

Tapi kita tahu tak, belajar itu untuk memanfaatkannya?
Jika tidak meniatkan untuk memanfaatkan dan ilmu yang kita pelajari itu tidak mampu memberi manfaat kepada kita, saya berani katakan ..

” Sila berhenti belajar! ”

Tetapi bukan untuk tutup buku, bungkus barang dan pulang ke kampung.
Tetapi , berhenti sebentar dan fikir kenapa, kenapa, dan kenapa.

Kerana belajar itu bukan kebiasaan!

Dan semua perkara lain pada manusia ini seharusnya tidak menjadi kebiasaan.

Kerana manusia ini fitrahnya berubah.
Sedangkan rambut dan kuku pun akan semakin memanjang.
Usia akan semakin meningkat.

Namun tegakah kita membiarkan kita tenggelam dalam kebiasaan?

Simptom yang mungkin semua orang maklum.
Petanda jelas jika kita berada dalam kebiasaan adalah …


Ayuh, mari kembali koreksi diri dan tidak menjadikan sesuatu dalam hidup kita sebagai sesuatu kebiasaan.!

Walaupun hanya sekadar mencuci pinggan!


kouhai: junior
seka-seka: tergesa-gesa.
si rafiqah: teman (perempuan)

Perihal Tarbiyyah di senarai kemudian

Ke hadapan umat manusia di akhir zaman
Mari kita menuju Tuhan
Tengok kiri toleh kanan
Umat tenat dalam kelemasan
Betapa banyak jiwa yang melaungkan
Tarbiyyah itu jalan penyelesaian
Tapi masih malas dan suka beralasan
Hal sendiri masih diutamakan
Perihal Tarbiyyah di senarai kemudian
Cerita Dakwah di hujung kepedulian
Lupa agaknya di Sana nanti bakal dipersoalkan
Apa pula jawapan berhujah dengan Tuhan?

Di saat kita mengakui nikmat Tuhan, di ketika itulah terbukanya pintu kebenaran.

 [sumber foto]

Buat penyeri hati tatkala membaca bacaan ini, ayuh saya selitkan secebis peingatan daripada seseorang (baca : sumber asal tak dapat dikenal pasti), melalui emel yang menghubung perkhabaran.
Barisan ayat-ayat santai yang menyentap rasa.
Jemput baca bagi yang teruja…^^
Tarbiyyah bukan untuk orang yang malas.
Dakwah bukan untuk orang yang takut nak bergerak dan mencabar diri.
Tarbiyyah bukan untuk orang yang cepat bosan, lari, lompat-lompat, sekejap down-sekejap up, cepat terasa.
Tarbiyyah bukan bagi orang yang memilih program untuk dia ikuti yang senang dan mudah join, yang penat, bersusah payah elak.
Bukan untuk orang yang mencari tarbiyyah hanya bila terasa diuji oleh tuhan. Kalau tak, batang hidung pun tak nampak.
Bukan bagi yang meletakkan dakwah hanya untuk mencari calon akhawat atau ikhwah sebagai sang isteri dan suami,
yang join hanya untuk meminta tolong teman-teman pencerahan bila dia dalam kesusahan..
Tapi kesenangan dan kelebihan yang dia dapat, tak share pun dengan orang lain.
yang cepat mengalah,yang meletakkan mabit, qiamullail, daurah, dan tathqif dalam diari hanya selepas ditolak dengan semua agenda dan upacara-upacara`penting’ yang lain.
yang hanya pandai cakap (dan menulis), tapi amal kosong
yang hanya tahu compare jamaah itu dengan jamaah ini, yang boleh
mengkritik dan menilai harakah ini dan itu.
Dakwah bukan untuk orang yang ikut liqa’ hanya kerana nak disebut sebagai ahli dalam harakah ini dan itu, jamaah ini dan itu.
Dakwah bukan untuk orang yang tak boleh diberi tugasan last minute.
Dakwah bukanlah untuk orang yang tak nak keluarkan duit, infaq di jalan Allah.
Dakwah bukan untuk orang yang tak boleh sesekali tidur lewat, terpaksa berjalan jauh.
Dakwah bukan bagi orang yang kalau ada program untuk ikut terlibat, mesti naik motokar besar dan mewah, yang air-cond, dan laju. Yang tak nak naik bas, public transport, dan yang kena berpeluh-peluh.
Tarbiyah bukan untuk orang yang kena contact dan info dia setiap masa tentang perkembangan terkini sedangkan dia kena macam boss, hanya tunggu information.
Pencerahan bukan bagi mereka yang hanya nak berkawan dengan orang berduit dan berharta, yang hidup mewah, dan mengelak berkawan dengan orang susah, miskin, dan pakai comot.
Dakwah bukanlah untuk orang yang setiap masa dan ketika, kerja nak beri alasan ini dan itu. Penat, mengantuk, susah, banyak kerja, keluarga tak bagi keluar.

Tarbiyyah bukanlah segala-galanya.
Tapi segala-galanya bermula dengan tarbiyyah.
Tanpa anda, orang yang sering beralasan ini, dakwah akan terus berjalan.


Islam akan tetap berjaya.
Ummah akan tetap terpelihara.Cuma tanpa pencerahan,
Tanpa tarbiyyah,
Tanpa dakwah
Belum tentu kita akan berjaya di mahsyar nanti.
Tak mengapa. 
Teruskan hidup anda seperti biasa.
Dakwah tak memerlukan anda. 
Tiada siapa pun yang rugi tanpa kehadiran anda. 
Berbahagialah seadanya.
Salam sayang dari perantauan
Doakan kami, akhwat di Bumi Tsunami
Berhempas pulas mencari bekalan
Buat berbakti di tanah sendiri
Umat yang sedang tenat,
Masih mahu hanya melihat?
We may choose.


Setiap jiwa yang mengaku beriman itu pasti akan diuji, sunnatullah itu tetap akan hadir.
 Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, [Al-baqarah 2: 155]

Ujian itu adalah tanda Allah masih ‘nampak’ dan peduli pada kita.
Lagi berat ujian yang ditimpakanNya, lagi sayang Dia pada kita.
Maka bergembiralah bagi mereka yang bersabar atas ujian yang menimpa.
Bersabar itu sememangnya payah. Iyalah kan, andai melaksana semudah bicara, tidaklah kesabaran dibayar syurga. Semoga janjiNya tentang syurga itu bisa membantu kita untuk terus sabar dan tabah menghadapi segala rasa yang seakan membeban di bahu.
Kita sepatutnya berasa risau andai kita tidak diberi ujian dalam kehidupan ini.
Malangnya andai segala nikmat yang hadir itu bukan kerana kasih dan sayangNya, tapi hanyalah sebagai istidraj (nikmat yang diberi untuk menjauhkan lagi kita daripada Allah).
Mari bersyukur kerana Allah masih ‘nampak’ dan peduli pada kita.
Ada orang pernah berpesan kepada saya :
Berdoalah agar diberi kekuatan untuk menghadapi ujian hidup (iman, ukhwah, keluarga, kewangan, study, dll), bukannya supaya Allah menghilangkan ujian daripada kita. “
Wallahu ‘alam.
Semoga kita tidak diuji melebihi daripada kemampuan kita.
Bukankah dengan ujian kepayahan itu, doanya kita makin laju menerjah ke langit?
Bukankah dengan ujian kesulitan itu, solatnya kita makin khusyuk mencari tenang?
Bukankah dengan ujian yang memberat itu, pengharapan kita semakin kuat kepada Dia?
Allah yang menciptakan kita. Dia tahu apa keperluan kita. Kerana itulah, Allah beri apa yang kita perlu, bukan apa yang kita mahu.
Mari bersangka baik dengan Allah.
Ujian itu suatu tarbiyyah daripada Allah.
Ujian itu tanda kita masih ‘ada’ di ‘mata’Nya.
Lihat ke langit, mentari itu masih menyinar, walaupun di waktu malam, masih tabah meminjamkan cahaya nya kepada sang rembulan. ^^

Ukuran Kemuliaan Wanita Hakiki

Wanita hiasan dunia,seindah hiasan adalah wanita solehah

Dengan kecantikan yang Anda miliki, ianya lebih anggun daripada cahaya mentari.

  1. Anda, dengan akhlak yang Anda miliki lebih harum daripada kasturi.
  2. Anda, dengan kerendahan hati yang Anda miliki, lebih tinggi daripada rembulan.
  3. Anda, dengan sifat keibuan yang Anda miliki, lebih menyegarkan daripada hujan.

Oleh kerana itu :

  1. Peliharalah kecantikan itu dengan iman.
  2. Peliharalah keridhaan itu dengan sikap qana’ah.
  3. Peliharalah kesucian diri itu dengan hijab.

Demikian kata-kata Dr ‘Aidh Al-Qarni, seorang pendakwah terkenal dari Arab Saudi.

Ungkapan ini jika dihalusi adalah usaha untuk membetulkan semula terhadap perkembangan pemikiran dan persepsi yang salah terhadap ukuran kemuliaan seorang wanita.

Pernyataan ini merupakan satu usaha untuk menolak berbagai keraguan berbahaya yang kini sudah menyentuh wilayah keyakinan iaitu :

“Adanya anggapan bahwa dengan kecantikan fizikal, seseorang wanita akan mampu meraih kemuliaan dan mendapatkan kebahagiaan.”

Anggapan ini bukan bersumber dari Islam kerana kemuliaan seseorang wanita TIDAK terletak pada :

  1. Kecantikan wajah.
  2. Keelokan tubuh badan.
  3. Banyaknya perhiasan yang dipakai.

Dalam Islam, ketiga-tiga perkara tersebut adalah FITNAH (ujian) bagi wanita kerana ianya samada boleh membawanya menuju kemuliaan atau mampu menyeretnya ke lembah kebinasaan.

Kenyataannya, tidak sedikit wanita yang terjebak dengan anggapan bahwa keelokan fizikalnya adalah segala-galanya. Mereka menganggap bahwa kemuliaan dan kebahagiaan akan didapati apabila berwajah cantik, kulit yang putih dan tubuh yang ramping.

Maka tidak pelik kalau ramai wanita yang kita jumpai bermati-matian untuk memutihkan kulitnya, membuat pembedahan-pembedahan plastik kepada sebahagian tubuhnya di samping  menghabiskan beribu-ribu malah berjuta wang demi mengejar prestij tersebut.

Bagi yang tidak mampu, mereka menjadi rendah diri dan merasa terasing dari pergaulannya dengan orang lain. Padahal kecantikan dan keindahan tubuh badan tidak dapat dijadikan kayu ukur kemuliaan. Lebih jauh lagi, semua itu tidak dapat menjamin seseorang akan menjadi bahagia.

Ramai juga wanita yang terjerumus ke dalam konsep “penuhanan” terhadap material. Bagi mereka, material adalah harga diri.

Dengan anggapan tersebut mereka mahu melakukan apa sahaja untuk meraihnya. Bahkan tubuhnya pun dengan mudah ingin dikorbankan.

Dalam konteks ini, mereka bukannya menjadi terhormat, tetapi justeru bernilai rendah di hadapan Allah swt.

Di satu sisi mereka bersikap “bermuka dua”, iaitu mengakui Allah swt sebagai Tuhan tetapi pada masa yang sama mereka“bertuhankan” fizikal dan material.

Di sisi lain pula, pengorbanan “mutiaranya” akan membuat orang yang melihatnya tidak akan menghormati mereka.

Kenyataan ini tidak lepas daripada pengaruh media massa, baik cetak maupun elektronik. Kekuatan media massa terletak kepada pengaruhnya untuk membentuk pendapat umum.

Dengan intensiti yang kuat, media massa terutamanya televisyen bukan sahaja menawarkan hiburan tetapi juga secara tidak langsung telah menawarkan :

  1. Nilai.
  2. Budaya.
  3. Prinsip hidup.

Secara perlahan-lahan namun dengan pasti, sajian televisyen yang asalnya menjadi tontonan semata-mata telah berubah menjadi panduan penontonnya, padahal tidak semua sajian televisyen menawarkan nilai yang sama dengan kehendak penontonnya.

Keadaan yang paling buruk adalah ketika sajian televisyen menjadi pengendali “trend” atau ‘trendsetter’ dalam pelbagai aspek kehidupan seperti :

  1. Pola berfikir.
  2. Tingkah laku.
  3. Keyakinan.

sehingga semua yang ada di televisyen menjadi ikutan dan panduan penontonnya dalam kehidupan nyata.

Nampaknya, sajian televisyen yang begitu mengagungkan wanita berupa paras cantik, berkulit putih dan berbadan ramping telah mempengaruhi persepsi kebanyakan wanita Muslimah dan masyarakat pada umumnya. Padahal semua itu salah dan bertentangan dengan Islam.

Di dalam Al Quran, Allah swt menyatakan sebaliknya, bahwa kayu ukur kemuliaan itu adalah ketakwaan BUKAN kecantikan fizikal.

Firman Allah swt :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al Hujuraat : 13)

Ketaqwaan itu ada di dalam hati. Hal ini sejajar dengan sabda Rasulullah saw bahwa sesungguhnya Allah swt tidak melihat seseorang dari bentuk tubuhnya tetapi melihat hati dan amalnya.

Sesungguhnya kemuliaan dapat diraih seseorang wanita manakala ia memiliki kemampuan untuk:

  1. Menjaga martabatnya dengan iman.
  2. Menerima semua kurniaan yang Allah berikan.
  3. Menghijab dirinya dari kemaksiatan.
  4. Menghiasi semua aktivitinya dengan ibadah.
  5. Memberikan yang terbaik terhadap sesama manusia.

Seorang wanita yang mampu melakukan semua itu akan mulia di sisi Allah dan terhormat di hadapan manusia.

Sejarah mencatatkan bahwa dalam dunia Islam sejak dahulu telah banyak muncul wanita-wanita mulia yang mendapatkan tempat yang terhormat di tengah-tengah umat hingga kini.

Contohnya Sayyidatina Khadijah ra yang namanya terus berkibar sampai sekarang bahkan setiap anak perempuan dianjurkan untuk meneladaninya.

Terkenalnya seorang Khadijah bukan kerana kecantikan dirinya namun kerana pengorbanannya dalam mendukung perjuangan Rasulullah saw mendakwahkan Islam.

Begitu juga Sayyidatina Aisyah ra, salah seorang isteri Nabi saw yang juga seorang cendekiawan muda.

Darinyalah para sahabat mendapat berbagai disiplin ilmu seperti fiqh, hadis dan tafsir. Pada masanya, Aisyah ra diangkat menjadi ulama’ atau guru para sahabat.

Ada pula Asma’ binti Yazid, seorang mujahidah yang membinasakan sembilan tentera Romawi di dalam perang Yarmuk hanya dengan menggunakan sebilah tiang khemah.

Masih ramai wanita mulia yang berkarya besar untuk umat pada masa-masa berikutnya. Di antara mereka ada yang menjadi guru kepada imam mazhab terkenal.

Imam Abu Hayyan mencatat tiga nama wanita yang menjadi guru kepada Imam Syafi’ie, iaitu :

  1. Mu’nisat Al Ayyubiyah.
  2. Syamiyat At Taimiyah.
  3. Zainab binti Abdul Lathif Al Baghdadi.

Keharuman dan keabadian nama mereka disebabkan oleh kemampuan :

  1. Mengembangkan kualiti diri.
  2. Menjaga ‘iffah’ (martabat).
  3. Memelihara diri dari kemaksiatan.

Sinar kemuliaan mereka muncul dari dalam diri mereka BUKAN fizikal. Sinar inilah yang lebih abadi.

Bagi mereka, fizikal hanyalah perhiasan semata-mata di mana, dalam rentang waktu yang lama

akan pudar juga akhirnya sehingga keadaan fizikal seperti apapun tidak banyak mempengaruhi kehidupan mereka.

Akhirnya marilah kita benar-benar mendidik isteri-isteri dan anak-anak perempuan kita khususnya dengan didikan Islam yang sebenarnya sehingga mereka mempunyai :

  1. Harga diri yang tinggi.
  2. Keimanan yang mantap.
  3. Keilmuan Islam yang luas.

sehingga mereka akan dapat menyelamatkan diri mereka daripada fitnah-fitnah dunia yang boleh mengheret mereka ke lembah kehinaan.

Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada kami berupa keimanan yang teguh dan keilmuan yang tinggi untuk kami mampu mendidik dan membangunkan keluarga kami mengikuti jalanMu yang lurus.

dipetik dari


Merebut keberkatan Ramadan

Ramadan, bulan penyucian jiwa. [sumberfoto]

Syaaban semakin melabuhkan tirainya,are we ready for the next upcoming sayyidul qamar??

Ramadhan karim!!

Allahu akram!

Dari Abi Azzam, dari Sahlin Radhiallahuanha dari Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya di dalam syurga itu terdapat pintu yang dinamakan Ar-Raiyan, orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat kelak. Tidak boleh masuk bersama mereka seorang pun selain mereka. Kelak akan ada pengumuman : Dimanakah orang yang berpuasa? Mereka lalu berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut, tidak masuk bersama mereka seorang pun selain mereka, setelah orang yang terakhir dari mereka telah masuk, pintu tadi ditutup kembali, tiada lagi orang lain yang akan memasukinya“.

waa..specialkan??Bukan calang-calang orang yang terpilih ni.Takkan kita nak ketinggalan?Begitu hebatnya tawaran dan anugerah Allah sehinggakan malaikat Jibril menerangkan kepada Baginda saw bahawa orang yang tidak memperolehi pengampunan dalam bulan ini adalah orang yang betul-betul celaka dan malang

Celaka dan malang?amek sebijik direct je..huhu

Rasulullah saw bersabda yang maksudnya,”Berapa ramai orang yg berpuasa tapi tiada mendapat apa-apa, melainkan lapar dan dahaga”.

Seperti mana kita prepare untuk raya,kite juga perlu prepare untuk puasa kan?

Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apabila seseorang kamu berpuasa, janganlah ia bercakap perkara-perkara yang kotor dan sia-sia, dilarang juga bertengkar dan memaki hamun. Apabila ia dimaki hamun oleh seseorang atau pun diajak bermusuhan maka hendaklah ia berkata, “Sesungguhnya aku berpuasa hari ini

Jom kita berlumba-lumba menggapai rahmat Allah yang dibentangkan seluas-luasnya bagi kita di Ramadhan al-Mubarak, bulan yang pada permulaannya rahmat, pertengahannya pengampunan dan penghujungnya terlepas daripada api neraka. (Riwayat Ibn Khuzaimah)

Let’s grab the chance!!

 “Umur itu pendek dan ajal itu sentiasa mengancam”(Salahuddin al-ayubi)

Jom meriahkan Ramadan dengan Al-Quran. [sumberfoto]




hasil tulisan : cik syakirin